RSS

Seven – Chapter 1 “The Beginning”

06 Dec

Chapter I

The Beginning

 

“Araeh… ayo kita istirahat sebentar.” Kata seorang anak muda yang terengah-engah sambil tangannya melambai kepada seorang pemuda di depannya. Sinar matahari menyinari rambut emas pemuda ini dan juga gelang perak yang berada ditangan kirinya. Dataran hijau ini seperti menyatu dengan jubah hijaunya dan beberapa untaian emas di bagian bawah baju yang menutupi dari leher sampai kakinya. Celana panjang coklatnya terlihat sudah sedikit kotor, menunjukkan perjalanannya cukup panjang dan keras.

“Rei… lihatlah kita sudah sampai.” Kata pemuda yang bernama Araeh itu. Dahinya tertutup kain berwarna hitam. Matanya berwarna biru dan bersinar. Rambutnya yang berwarna biru tua terlihat kaku walaupun sudah tertiup angin yang begitu kencang. Terlihat tangannya sedang menunjuk ke suatu tempat. Tangannya yang terlilit beberapa lilitan kain tipis. Dia memakai baju yang sama dengan Rei hanya saja baju itu hanya menutupi bagian pundaknya dan memperlihatkan baju besi berlapis yang menutupi dada dan tubuhnya.

Rei terlihat begitu senang walaupun mukanya tidak memperlihatkan perubahan apapun, karena mukanya selalu terlihat senang dimanapun dia berada. Rei melihat kota yang ditunjuk oleh Araeh, kota yang menjadi tujuan perjalanan panjang mereka. Ibu kota benua tempat tinggal para human , City of God, Nemeria.

“Wuahhhh….. lihatlah Ar… ini keren sekali!!!!” kata Rei pada Araeh, karena melihat keindahan kota itu. Kota ini di bagian kanan, kiri, dan belakangnya terlindungi oleh pegunungan yang terjal dan tinggi. Hanya disisakan bagian depan yang begitu kokoh di tutupi oleh  6 tower penjaga yang diantara setiap tower tersambung oleh tembok yang kokoh dan 1 gerbang utama yang terlihat begitu kokoh. Pemandangan itu terlihat begitu luar biasa saat terlihat dari bukit yang menjulang tempat Araeh dan Rei berdiri.

“Ayo Rei.” Kata Araeh sambil berjalan menuruni bukit. Diikuti oleh Rei yang berjalan dengan santai sambil kedua tangannya berada di belakang kepalanya.

“Ar… nanti kita istirahat di penginapan dulu ya. Kakiku capek sekali.” Kata Rei sambil berjalan disamping Araeh sembari berusaha menyamakan kecepatan jalannya dengan langkah kaki araeh yang memang langkahnya lebih lebar dari Rei karena posturnya yang lebih tinggi dari Rei.

“Keceriaan ini yang dulu menyelamatkanku dari kegelapan itu.” Pikir Araeh.

“Ha? Ayo Ar! Kasur hangat sudah menunggu untuk aku tiduri!” kata Rei sambil menunjukkan muka lucunya, saat melihat Araeh terdiam.

Araeh kembali berjalan dan tersenyum melihat kelakuan teman seperjalannya. Mereka berdua semakin mendekati pintu gerbang Nemeria. Semakin dekat gerbang itu terlihat semakin kokoh dan indah. Batu-batu berwarna putih itu terpotong dengan bagus dan luar biasa pas tersambung satu dengan yang lain membuat tembok yang begitu kokoh dan kuat. Pintu gerbang itu terbuka dengan lebar mempersilahkan semua orang untuk masuk. Tapi disaat tertutup dia dengan kuat bisa melindungi kota dari serangan semua musuh.

Rumput yang lembut menamani langkah kedua pemuda ini, terdengar angin berhembus dari arah hutan membawa aroma bunga Naphiri. Bunga Naphiri adalah bunga berwarna putih yang memiliki 4 kelopak. Bunga ini sebenarnya tidak selamanya berwarna putih disaat tertentu bunga ini bisa mengeluarkan warna emas. Disaat warnanya berubah menjadi emas, dia bisa menjadi obat untuk segala macam penyakit. Aroma yang dihasilkan oleh bunga ini tercium manis dan menyegarkan.

“Selamat datang di ibukota Hose, Nemeria.” Kata seorang pria paruh baya yang berada di dekat gerbang masuk. Kulitnya sudah agak keriput dan rambutnya mulai memutih.

Araeh dan Rei menunduk tanda membalas salam dari pria tua itu. Dan melanjutkan perjalanan. Araeh tetap tenang seperti biasa dan tentu saja Rei tetap ceria. Mulut Rei terlihat menyayikan lagu-lagu elf yang menceritakan tentang kedamaian dan ketenangan yang ada di Havorc. Havorc adalah dunia tempat tinggal ke-7 ras. Human, ras yang cinta damai dan suka meneliti. Elf, ras mula-mula yang tinggal di Havorc mereka terlihat begitu anggun dan agung. Orc, ras yang paling besar tubuhnya dibandingkan ke-7 ras lainnya. Neclord, ras penguasa malam. Hirin, ras pengendara. Dragon, ras tertutup yang dianggap sebagai penjaga kedamaian di havorc. Dan Hone, ras gabungan dari Human , Orc , Neclord , dan Elf , ras yang ditakdirkan untuk memimpin semua ras. Ya paling tidak itu dulu yang harus kalian tau tentang Havorc dan isinya.

“Ar, apa rencanamu setelah ini?” tanya Rei sambil berjalan di samping Araeh.

“Aku belum tahu. Mari kita cari penginapan dulu.” Kata Araeh tenang, sambil melihat sekeliling. Araeh tertarik melihat tentara yang sejak tadi mereka memasuki kota terlihat sudah mondar-mandir. Dengan baju zirah mereka, mereka terlihat sedang bersiap-siap untuk sesuatu.

“Rupanya Kau memperhatikannya juga Ar. Sepertinya mereka sudah bersiap untuk perang.” Terlihat nada serius dari mulut Rei, nada yang jarang sekali terdengar dari mulut Rei. Matanya yang selalu menunjukkan keceriaan sekarang mulai terbuka dan menunjukkan keseriusan. Rei tidak pernah menunjukkan mata hijaunya kecuali dia sedang serius.

“Untuk saat ini lebih baik kita istirahat.” Kata Araeh dengan tenang.

“Setuju! Kakiku sudah sakit sekali. Hmmm nanti kita akan makan ini… itu…” kata Rei dengan nada cerianya kembali. Dan dia terus membicarakan masalah makanan sepanjang perjalanan.

~o0o~

“Selamat datang di Penginapan Morning Glory!!! Silahkan masuk!!! Marien, siapkan meja untuk 2 pengembara muda ini!” kata seorang ibu dengan baju terusan berwarna coklat tua dengan celemek putih, saat Araeh dan Rei memasuki penginapan. Dia terlihat sangat semangat sekali, sambil membawa nampan berisi penuh makanan. Rei memperhatikan makanan itu dengan seksama. Sepertinya dia sudah benar-benar kelaparan.

“Silahkan duduk di sini Tuan.” Kata seorang gadis manis sambil menunjuk suatu meja kosong di pinggir ruangan. Meja yang terbuat dari kayu tua dan disertai 2 kursi. Ruangan ini memiliki pencahayaan yang menyenangkan, bau makanan yang sangat sedap tercium dari dapur yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Terdengar suara banyak orang, karena memang penginapan ini cukup ramai.

“Apa anda mau memesan sesuatu?” kata gadis itu dengan ramah, rambut ikalnya yang berwarna coklat keemasan bagaikan bercahaya terkena sinar dari lampu penginapan ini. Matanya yang coklat memperhatikan muka Araeh dengan seksama. Saat Araeh melihatnya, maka dengan cepat wanita ini mengalihkan pandangannya ke Rei yang dari tadi sudah tidak sabar ingin memesan. Tangan Rei terlihat saling mengusap sambil melihat daftar menu yang disodorkan oleh wanita itu.

“Aku pesan ini…. Ini…. Ini… dan ini…” terlihat Rei sibuk memesan makanan.

“Hmmmm penginapan ini cukup bagus…” pikir Araeh sambil melihat sekeliling penginapan. Penginapan ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama adalah bar dan lantai kedua adalah tempat untuk menginap. Di sekeliling tembok yang tersedia beberapa lampu yang terlihat seperti setengah bola yang menempel di pinggir tembok.

“Ar…. Ar…” panggil Rei.

“Ya..?” jawab Araeh sambil menoleh ke Rei.

“Apa yang Kamu pesan?” tanya Rei sambil menunjukkan daftar menu ke depan muka Araeh.

“Hmmm…” pikir Araeh sambil mengambil daftar menu yang berada tepat didepan mukanya.

“Tidak perlu. Sepertinya kamu sudah memesan cukup banyak.” Kata Araeh sambil mengembalikan menu kepada gadis tersebut.

“Terima kasih. Bila Anda memerlukan hal yang lain bisa memanggil saya. Oya nama saya Marien.” Kata gadis itu sambil tersenyum ramah dan pergi meninggalkan mereka.

Tidak berapa lama apa yang dipesan oleh Rei datang. Meja bundar yang awalnya kosong tiba-tiba berubah menjadi penuh. Rei terlihat sangat semangat melihat semua makanan yang di depannya. Begitu juga Araeh, mereka berdua sangatlah lapar. Tanpa diberi aba-aba apapun mereka langsung menyantap makanannya. Gadis itu memperhatikan dari dekat dapur dan tertawa kecil saat melihat cara makan mereka.

“Lezat!!!!! Luar biasa!!!! Makanan di sini sangat lezat!!!” teriak Rei, dan teriakan itu membuat semua pengunjung memperhatikan Rei dan Araeh.

“Rei… kadang aku meragukan dirimu adalah seorang Elf.” Bisik Araeh kepada Rei yang duduk di depannya.

“Hahahaha… mereka yang terlalu kaku Ar. Seharusnya semua elf sepertiku.” Kata Rei sambil tertawa. Memang Rei adalah elf muda, orang bisa mengetahui dari telinga runcing dan kulit halusnya. Memang saat ini perbedaan antar ras sudah tidak ada. Dan banyak ditemui beberapa ras lain yang kadang mampir ke suatu kota untuk hanya istirahat sebentar setelah melakukan perjalanan, ada juga yang mengungsi karena lari dari peperangan yang sekarang sering terjadi di benua lain. Bisa dibilang Benua Hose adalah benua yang paling aman dan belum terjadi perang sampai saat ini.

“Terserah kau saja.” Kata Araeh sambil merenggangkan otot tangannya.

“Terima kasih atas pujiannya anak muda!!!” tiba-tiba tepukan keras meluncur ke pundak Rei, Rei terlihat sangat kaget dan tentu saja di langsung terjerembab ke depan.

“Hahahahahaha.” Tawa serak seorang pria tua botak dan memakai baju biasa dengan celemek di dadanya.

“Uhuk uhuk.. tadi itu keras sekali paman.” Kata Rei sambil mengusap-usap pundaknya.

“Maafkan aku anak muda!! HUAHAHAHAHA!” tawa pria tua itu sangat keras sampai menggema keseluruh penjuru penginapan ini.

“Namaku Kardeck, pemilik penginapan ini. Sekaligus kepala koki disini. Hahahahaha.” Kata pria tua ini, sambil tertawa dengan sangat keras, dan menepuk dadanya sendiri.

“Paman ini tertawa terlalu keras.” Pikir Araeh.

“Wuahhh jadi paman yang memasak semua masakan ini?” kata Rei dengan mata berbinar-binar.

“Yup!” kata Kardeck dengan bangga.

“Luar biasa paman!!! Makanan ini lezat sekali. Ya kan Ar?” kata Rei sambil menoleh ke Araeh yang sedang melihat-lihat sekeliling.

“Ha.? Iya, makanan ini enak.” Jawab Araeh walaupun kaget diawalnya karena dia sedang fokus melihat pergerakan pasukan yang semakin banyak ke arah pintu gerbang yang terlihat dari jendela yang ada di dekat mereka.

“Apakah secepat ini?” pikir Araeh.

“Paman, apakah masih ada kamar kosong?” tanya Araeh kepada Kardeck yang sedang bercakap-cakap layaknya sahabat lama dengan Rei. Memang Rei adalah orang yang sangat mudah akrap dengan orang lain.

“Jangan panggil aku Paman, panggil aku Kardeck. Hahahaha.” Kata Kardeck dengan suara yang tetap keras.

“Kalian membutuhkan kamar? Tentu saja ada. Mari aku antar. Hahahahaha.” Lanjut Kardeck.

“Terima kasih Kard!!! Hahahahahah… uhuk uhuk” Kata Rei sambil meniru cara ketawa Kardeck, tetapi akhirnya dia terbatuk-batuk.

“Masih terlalu cepat untuk bisa tertawa sepertiku anak muda. Hahahhaha.” Kata Kardeck sambil memukul pundak Rei.

“Sepertinya kau benar. Uhuk uhuk.” Kata Rei sambil berusaha menghentikan batuknya.

Mereka menaiki tangga,  setalah sampai di atas mereka berbelok ke kanan, dan akhirnya mereka sampai ke salah satu ruangan. Kardeck mengeluarkan kunci yang ada di kantung celemeknya, lalu membuka pintu.

“Silahkan masuk!!” kata Kardeck sambil menunjukkan kamarnya. Kamar yang tidak terlalu besar tetapi terlihat nyaman. Ada 2 tempat tidur dan di antara tempat tidur terdapat meja kayu sedang, dan terdapat vas bunga yang berisi bunga Nemerion, bunga berwarna kuning yang aromanya bisa memberikan ketenangan bagi yang menghirupnya. Jendela berada di dinding sebelah barat. Berada tepat di seberang pintu masuk.

“Kamar yang bagus.” Kata Araeh.

“Kau menyukainya? Hahahahaha. Bagus bagus! Beristirahatlah aku akan kembali memasak. Hahahaha.” Kata Kardeck sambil menepuk pundak Araeh.

“Terima kasih paman!!!” Teriak Rei, sambil melihat Kardeck yang  menuruni tangga.

Araeh dan Rei, memasuki ruangan. Araeh langsung mendekati jendela untuk melihat keadaan jalan di depan penginapan yang terlihat jelas dari jendela tersebut. Dan Rei membuka Jubahnya dan terlihat baju biru muda tanpa lengan yang dipakai Rei. Terlihat di pinggangnya terselip sebuah kipas, kipas itu memiliki pegangan berwarna coklat dan memakai bulu Harpie sebagai kipasnya. Harpie adalah hewan mistik yang berbetuk seperti wanita tapi tangannya merupakan sayab. Terdengar kabar kalau bulu-bulu dari sayabnya sangatlah tajam dan juga bisa tumbuh kembali.

“Rei, sepertinya kita harus bertindak lebih cepat.” Kata Araeh sambil tetap melihat ke luar, pandangannya tertuju pada jendral muda yang sedang mengatur barisan pasukan. Karena jaraknya cukup jauh, Araeh tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa Jendral itu.

“Malam ini kita bertindak. Untuk saat ini mari kita tidur.” Kata Rei sambil menaruh kipas berwarna biru kehijauan itu ke meja yang berada di sebelah tempat tidurnya, lalu dia membaringkan tubuhnya ke kasur.

“Selamat tidur Ar.” Kata Rei, tidak lama kemudian Rei sudah terlelap.

“Selamat tidur Rei.” Kata Araeh, tapi kalimat itu sudah tidak terdengar oleh Rei yang tertidur.

Araeh mendekati tempat tidur, dan membaringkan tubuhnya. Araeh menggunakan kedua tangannya untuk menyangga kepalanya. Dan melihat ke langit-langit kamar tersebut. Dan tidak lama kemudian, Araeh terlelap.

~end~

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2011 in Seven

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: